Senin, 12 Agustus 2019
Sabtu 10 Agustus akan
selalu kuingat, hari dimana aku melakukan rekonsiliasi dengan salah satu inner
circleku mengenai pria itu.
Aku tidak mau menjadikan
intuisi-asumsi terkaan ini menjadi drama berkelanjutan. Aku memastikan dengan
detail, perasaan sahabatku ini untuk pria itu, dan sampai sejauh mana
pengkhianatan yang dia lakukan bersamanya di belakangku selama 5 bulan ini.
Sakit kembali kurasakan,
selain karena “Bagaimana bisa dia menyukai sahabatku? Tak cukup jelaskah
tanda-tanda yang kuberikan 10 tahun ini, hingga membuatmu menjadi bodoh dan tidak merespon apapun atasnya? Dan kenapa juga sahabatku ini memiliki
rasa yang sama dengannya?”. Sakit nya juga terasa nyata karena banyaknya pengkhianatan-pengkhianatan
kecil yang sahabatku lakukan sampai menumpuk dan cukup dikategorikan menjadi
kenyaatan yang pahit.
Hal itu juga berarti bahwa dia benar-benar tidak
mengenalku sebagai sahabatnya 6 tahun ini, buktiknya dia tidak percaya padaku bahwa
aku adalah wanita yang dewasa dan memang lebih dewasa dibanding dia secara
usia, aku mampu menghadapi dan menyelesaikan masalah ini dengan cara yang
elegan, bukan kekanak-kanakan seperti yang dia takutkan. Hal itulah yang
menyakitiku, disamping memang mostly kebohongan yang ditutupi dariku selama 5
bulan terakhir.
Oh my God, please!
Berderai airmata
dengannya telah kulalui. Tapi itu tak sebanding dengan yang aku lakukan sendiri
di kesendirian pikiranku. Tak hanya harus menyimpan sakit karena pengkhianatan
itu, tapi juga sakit karena harus dengan sadar dan segera mengambil keputusan-keputusan
berat ini.
> Mengikhlaskan pria ini
untuk jatuh ke hati entah wanita yang mana.
> Mengikhlaskan perjuangan
berat sedasawarsaku berakhir begini saja.
> Mengikhlaskan kekecewaanku
mengalir dan tertanggung juga oleh mamaku sehingga membuatku merasa bersalah.
> Mengikhlaskan kesempatan
menjadi anak menantu dari bapak-ibu panutan sejuta umat.
> Mengikhlaskan 10 taun
waktu dan perasaan tulus hatiku terbuang sia-sia.
Tak cukup berhenti
disitu, aku harus kembali melanjutkan hidup meski terseok-seok tanpa aku mau orang
lain mengetahuinya.
Menangis dalam hati, bersedih dalam diam.
Memakai topeng kebahagaiaan
semu, tawa renyah yang penuh dusta.
Menghapus seketika airmata yang bergulir
setiap mengingat baik dan buruknya dia, impian masa depan rumah tanggaku yang bahagia,
bapak-ibunya yang baik dan perhatian, mamaku yang kuajak berpengharapan yang
sama, nasibku yang kembali gagal dalam hal asmara setelah Andrew 10 taun – Dion
1 taun – Erwin 8 bulan – lalu makhluk satu ini 10 taun.
Parahnya aku harus
menghadapi face to face juga pria ini dan keluarganya seolah-olah tidak pernah ada yang terjadi antara aku dan anak laki-laki tertuanya ini.
Ini harus aku alami karena kami berada di
satu ruang lingkup yang sama yang berpotensi bertemu di beberapa kesempatan
secara intens tiap minggunya.
Aku benar-benar ingin pergi dari kota ini barang
sejenak, atau mungkin juga selamanya.
Kota yang selama ini kuklaim sebagai rumah
yang ternyaman sepanjang masa versiku kinipun mulai berubah, intoleransi mulai
bertumbuh dimana-mana, kearifan lokalnya terkikis perlahan, dan terutama karena kota ini telah menorehkan banyak kisah, bahagia dan juga luka.
Bali, kota
berikutnya yang terpilih oleh hatiku sebagai kota yang akan menerima pemikiran
liar dan bebasku tanpa aku harus mengorbankan perasaanku-keinginanku-pendapatku-pemikiranku. Namun sekali lagi, aku tidak hanya hidup sendiri, ada mamaku…yang gak
suka sama Bali, dan aku gak sanggup kalo harus pisah engan ammaku, itu artinya aku harus menghidupi 2 dapur coy, Bali dan Jogja dengan UMR Bali yang cuma 2,8juta.
Hmm...Drama banget ya hidupku, mau bahagia aja kayaknya
susah bet. Hahahaha..
Ikhlas..
Akhir kata di tulisanku kali ini, IKHLAS adalah satu kata yang ringan diucapkan
ala kadarnya namun banyak kedagingan yang perlu dikerat untuk memvalidasinya sampai
nantinya aku mampu mengucapkannya menjadi satu rangkaian kata “AKU SUDAH IKHLAS”.